Waspada Serangan Jantung

Serangan jantung (Heart Attack) menjadi salah satu hal menakutkan bagi siapapun. Termasuk tim medis sendiri. Karena penanganan serangan jantung ini tentunya memerlukan waktu yang sangat cepat. Bila terlambat dalam penanganannya akan semakin memperburuk kondisi pasien, hal terburuknya adalah kematian.

Beberapa orang ternama terdiagnosa serangan jantung dan langsung meninggal saat itu juga. Lebih naasnya lagi mereka adalah usia produktif, usia muda dimana secara fisik mereka segar bugar. Banyak yang tidak menyangka bahwa serangan menimpa mereka.

Sebut saja Ashraf Daniel Mohammed Sinclair, yang lebih familiar dengan nama Ashraf Sinclair, suami Bunga Citra Lestari yang meningal pada tanggal 18 Februari 2020. Meninggal di usia  muda (40 tahun) dengan diduga karena serangan jantung.

Kematian mendadak (sudden death) pada orang muda merupakan sutu hal yang jarang terjadi. Beberapa orang yang memiliki resiko akan hal ini dapat melakukan pencegahan dini. Mencari informasi lebih jauh mengenai faktor risiko, penyebab dan perawatan. 

Kematian mendadak sering terjadi selama aktivitas fisik, seperti bermain olahraga, dan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Pertanyaannya adalah, Seberapa umum kematian jantung mendadak pada orang muda? 

Sebagian besar kematian akibat henti jantung terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, terutama mereka yang menderita penyakit arteri koroner. Mungkin 1 dari setiap 50.000 kematian jantung mendadak setahun terjadi pada atlet muda. Apa yang bisa menyebabkan kematian jantung mendadak pada usia muda? Penyebab kematian jantung mendadak pada orang muda bervariasi. Paling sering, kematian adalah karena kelainan jantung. Jantung berdetak tidak terkendali. Irama jantung abnormal ini dikenal sebagai ventrikel fibrilasi. 

Mereka yang paling berisiko terkena serangan jantung adalah:
1. Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas 
2. Riwayat keluarga dengan penyakit jantung 
3. Tekanan darah tinggi 
4. Diabetes 
5. Kurang latihan fisik 
6. Gaya hidup yang tidak banyak bergerak 



Referensi :
2. Photo take from TimesofIndia

Corona Virus Update

Dunia gempar dengan hadirnya virus baru ini. Virus yang dikenal dengan nama 2019-nCoV ditemukan Desember 2019 di WUHAN China. Hingga saat ini, jumlah negara yang melaporkan kasus coronavirus terus bertambah. Per Jumat (31/1/2020), totalnya sudah mencapai 21 negara, setelah Italia, India, dan Filipina melaporkan kasus pertama mereka pada Kamis. 

Seiring dengan meluasnya penyebaran virus yang mirip Server Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) itu, Komisi Kesehatan Nasional China juga melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat virus corona di China daratan meningkat. Per Jumat, angkanya mencapai 213 orang, CNN.

Dikutip dari  laman liputan6.com, dalam keterangan resmi WHO berjudul Statement on the second meeting of the International Health Regulations (2005) Emergency Committee regarding the outbreak of novel coronavirus (2019-nCoV), yang dipublikasikan pada 30 Januari 2020, bahwa masih mungkin untuk menghentikan penyebaran virus corona, asalkan negara-negara memberlakukan langkah-langkah kuat untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

Dikutip dari alodokter.com, Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Virus yang diperkirakan ditularkan melalui hewan ke manusia ini dengan berkembanganya kasus yang ada, ternyata dapat menularkan juga antar manusia. 

Adapun penularan dapat melalui percikan ludah dari bersin atau batuk penderita virus Corona, kontak mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh benda yang terkena air liur penderita, bersentuhan atau berjabat tangan dengan penderita.

Hingga saat ini, infeksi virus Corona belum ditemukan terapi yang tepat, tetapi ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meredakan gejalanya, yaitu:
1. Menggunakan obat pereda demam dan nyeri.
2. Menganjurkan penderita untuk mandi air hangat dan menggunakan humidifier (pelembab udara), untuk meredakan batuk dan sakit tenggorokan.
3. Menganjurkan penderita untuk istirahat yang cukupdan jangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran virus.
4. Menganjurkan dan mengharuskan penderita untuk minum banyak air putih guna menjaga kadar cairan tubuh.

Pencegahan yang terbaik adalah dengan menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus ini, yaitu:
1. Hindari bepergian ke Cina atau ke negara lain yang telah ditemukan adanya penularan virus Corona.
2. Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama bila Anda beraktivitas di tempat umum.
3. Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol setelah beraktivitas di luar ruangan.
4. Hindari kontak dengan hewan, terutama hewan liar. Bila terjadi kontak dengan hewan, cuci tangan setelahnya.
5. Pastikan Anda memasak daging sampai benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
6. Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah.
7. Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.
8. Hindari berdekatan dengan seseorang yang sedang sakit.
9. Jaga kebersihan benda yang sering disentuh dan kebersihan lingkungan.

Untuk seseorang yang diduga terinfeksi virus Corona, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar virus tidak menular ke orang lain, yaitu:
1. Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan.
2. Usahakan untuk tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu. Bila tidak memungkinkan, 3. gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.
4. Larang dan cegah orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh.
5. Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sedang sakit.
6. Hindari berbagi alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain.
7. Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.
8. Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu buang tisu ke tempat sampah.

Sumber gambar : Times Indonesia

The Elephant Trunk Procedure for Aortic Aneurysm Repair

figure

Fig. 1A—Stage I of elephant trunk procedure: surgical repair of ascending thoracic aorta.
A, Illustration depicts surface anatomy of type A aortic dissection with thrombosed false lumen and aneurysm.
figure
Fig. 1B—Stage I of elephant trunk procedure: surgical repair of ascending thoracic aorta.
B, Oblique sagittal section shows extent of aortic dissection. Upper inset shows ascending aorta, arch, and proximal descending aorta. Lower inset shows axial cross-section of true and false lumens, latter of which is thrombosed.
figure
Fig. 1C—Stage I of elephant trunk procedure: surgical repair of ascending thoracic aorta.
C, Illustration and inset show division of ascending aorta and roof of aortic arch (dashed lines). Great vessels and portion of roof are isolated and retained for later anastomosis with graft.
figure
Fig. 1D—Stage I of elephant trunk procedure: surgical repair of ascending thoracic aorta.
D, Removal of ascending aorta and arch. Upper inset shows great vessels and lower inset, exposed aortic root.
figure
Fig. 2A—Step-by-step demonstration of graft invagination for anastomosis preparation and creation of elephant trunk prosthesis.
A, Folding graft in on itself. Outer wall of graft (pink) will be limb that remains in descending aorta. Inner wall of graft (blue) will be pulled superiorly for anastomosis with ascending root and great vessels.
figure
Fig. 2B—Step-by-step demonstration of graft invagination for anastomosis preparation and creation of elephant trunk prosthesis.
B, Graft placement into descending aortic lumen. Inset shows coronal cross section.
figure

Fig. 2C—Step-by-step demonstration of graft invagination for anastomosis preparation and creation of elephant trunk prosthesis.
C, Anastomosis of graft with descending thoracic aorta. Inset shows coronal cross section.
figure
Fig. 2D—Step-by-step demonstration of graft invagination for anastomosis preparation and creation of elephant trunk prosthesis.
D, Proximal end of retracted graft is sutured to aortic root. Superior limb of graft (blue) is being pulled proximally (arrow) from descending aortic lumen after anastomosis, leaving descending limb (elephant trunk) in descending thoracic aorta. Inset shows coronal cross section.
figure

View larger version (70K)
Fig. 2E—Step-by-step demonstration of graft invagination for anastomosis preparation and creation of elephant trunk prosthesis.
E, Complete anastomosis of superior (ascending) limb of graft prosthesis.
figure

View larger version (132K)
Fig. 3A—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
A, Axial IV contrast-enhanced CT images show elephant trunk prosthesis (arrows) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (135K)
Fig. 3B—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
B, Axial IV contrast-enhanced CT images show elephant trunk prosthesis (arrows) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (129K)
Fig. 3C—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
C, Axial IV contrast-enhanced CT images show elephant trunk prosthesis (arrows) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (206K)
Fig. 3D—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
D, Coronal (D) and sagittal oblique (E) volume renderings nicely convey 3D relationship of free-floating elephant trunk graft (arrows) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (224K)
Fig. 3E—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
E, Coronal (D) and sagittal oblique (E) volume renderings nicely convey 3D relationship of free-floating elephant trunk graft (arrows) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (205K)
Fig. 3F—41-year-old woman with aortic dissection who presented for follow-up after undergoing ascending aortic repair and elephant trunk procedure.
F, Sagittal oblique multiplanar reconstruction shows both elephant trunk prosthesis (arrows) and residual dissection (arrowheads) in descending thoracic aorta.
figure

View larger version (69K)
Fig. 4A—Stage II of elephant trunk procedure: surgical repair of descending thoracic aorta.
A, Incision (dashed lines) of 8–10 cm is made through posterolateral descending thoracic aortic wall, exposing elephant trunk graft.
figure

View larger version (48K)
Fig. 4B—Stage II of elephant trunk procedure: surgical repair of descending thoracic aorta.
B, Anastomosis of distal end of elephant trunk to descending thoracic aorta.
figure

View larger version (67K)
Fig. 4C—Stage II of elephant trunk procedure: surgical repair of descending thoracic aorta.
C, Completed two-stage surgical repair of dissection involving ascending and descending thoracic aorta.
figure

View larger version (187K)
Fig. 5A—71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
A, Coronal (A) and sagittal (B) multiplanar reconstructions show aneurysm of thoracic and abdominal aorta with moderate mural thrombus in descending thoracic aorta and proximal abdominal aorta.
figure

View larger version (215K)
Fig. 5B—71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
B, Coronal (A) and sagittal (B) multiplanar reconstructions show aneurysm of thoracic and abdominal aorta with moderate mural thrombus in descending thoracic aorta and proximal abdominal aorta.
figure

View larger version (157K)
Fig. 5C —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
C, Patient underwent ascending aorta repair with elephant trunk prosthesis in descending thoracic aorta. Coronal (C) and sagittal (D) volume renderings and sagittal oblique maximum intensity projection (E) show ascending aortic graft, elephant trunk in descending aorta, and metallic markers (arrows, E) at free end of graft.
figure

View larger version (153K)
Fig. 5D —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
D, Patient underwent ascending aorta repair with elephant trunk prosthesis in descending thoracic aorta. Coronal (C) and sagittal (D) volume renderings and sagittal oblique maximum intensity projection (E) show ascending aortic graft, elephant trunk in descending aorta, and metallic markers (arrows, E) at free end of graft.
figure

View larger version (192K)
Fig. 5E —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
E, Patient underwent ascending aorta repair with elephant trunk prosthesis in descending thoracic aorta. Coronal (C) and sagittal (D) volume renderings and sagittal oblique maximum intensity projection (E) show ascending aortic graft, elephant trunk in descending aorta, and metallic markers (arrows, E) at free end of graft.
figure

View larger version (197K)
Fig. 5F —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
F, Multiple stents were placed in descending thoracic aortic aneurysm under fluoroscopy, beginning at distal portion of elephant trunk prosthesis; end of graft is identified by radiopaque markers (arrows, F).
figure
Fig. 5G —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
G, Multiple stents were placed in descending thoracic aortic aneurysm under fluoroscopy, beginning at distal portion of elephant trunk prosthesis; end of graft is identified by radiopaque markers (arrows, F).
figure
Fig. 5H —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
H, Multiple stents were placed in descending thoracic aortic aneurysm under fluoroscopy, beginning at distal portion of elephant trunk prosthesis; end of graft is identified by radiopaque markers (arrows, F).
figure
Fig. 5I —71-year-old woman with extensive thoracic aneurysm.
I, Sagittal oblique color-coded volume-rendering image shows thoracic aorta after staged surgical repair of ascending thoracic aorta and placement of multiple stents in descending thoracic aorta.

Pamela T. Johnson et al.2012. The Elephant Trunk Procedure for Aortic Aneurysm Repair: An Illustrated Guide to Surgical Technique With CT Correlation. American Journal of Roentgenology December 2011, Volume 197, Number 6

Monitoring ECMO

Keberhasilan dari pemasangan ECMO adalah bagaimana tim dapat memantau kondisi pasien secara berkelanjutan di ruang intensif sesuai dengan tujuan awal dari indikasi pemasangan ECMO. Beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi team ECMO (baik perawat, dokter ataupun perfusionis) :

1. Sirkuit
ECMO Flows dan MAP (Mean Atrial Pressure)
Perubahan flow atau aliran darah pasien sangat penting untung dimonitor. Penurunan flow akan mengakibatkan penurunan preload atau afterload secara berlebihan. Penurunan preload dapat diakibatkan karena hipovolume atau karena adanya bleeding.

2. Gas Exchange Support
MSweet

3. SvO2 and Lactate

4. Pulsatility

5. Rhythm

Referensi:

1. Mabel Chung. Monitoring of the Adult Patient on Venoarterial Extracorporeal Membrane Oxygenation. The Scientific World Journal.Volume 2014 (2014), Article ID 393258, 10 pages.
2. Aditya Badheka; Sara E. Stucker. Efficacy of Flow Monitoring During ECMO. ASAIO Journal. 63(4):496–500, JUL 2017.

Pelatihan EKG I INKAVIN



Pendaftaran ACLS Perawat, INKAVIN 2019



Tanda Pagar | #

Bingung sebeneranya memberikan nama pada label ini. Oleh karena itu, hanya sekedar '#'. Tanda '#' sebagai pembeda label yang ada dan kuberikan pada semua hal tentang catatan harian sebagai seorang klinisi, Perawat Kardiovaskuler. Harapanya dengan memberikan ruang khusus pada diri untuk lebih mengeksplore sedikit jejak diri sebagai perawat kardiovaskuler, sehingga ada sedikit ruang interaktif dalam penyampaian hal-hal yang berasal dari area klinik yang lebih aplikatif. Sehingga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan skill senantiasa terjaga. 

Patent ductus arteriosus | PDA












Referensi
1. Patent ductus arteriosus. http://en.wikipedia.org/wiki/Patent_ductus_arteriosus

SIRS | Systemic Inflammatory Response Syndrome

SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome)

Cell Salvager | Cell Saver

Cell salvager atau cell saver merupakan upaya penyelamatan sel darah yang agar tidak lisis atau terbuang percuma. Proses yang dilakukan berupa pengumpulan darah area lapang operasi, kemudian disaring, dan dicuci hingga dihasilkan sel darah merah untuk retransfusi kepada pasien.
Indikasi penggunaan mesin cell saver adalah mengurangi penggunaan transfusi donor darah dan meminimalisir efek samping dari proses transfusi tersebut. Selain itu ada beberapa kepercayaan seperti Jehovah's Witnesses yang menganut penolakan pada sistem transfusi komponen darah, sehingga untuk meminimalisir darah yang terbuang, maka penggunaan cell saver sangat berguna untuk menyelamatkan sel darah.
 
 

Mekanisme Pengumpulan Darah
  1. Darah ditarik dan ditampung ke reservoir (penampung) melalui sirkuit yang terhubung antara penghisap (suction) dan cairan yang berisi antikoagulan (30.000 unit heparin dalam 1 liter cairan normal salin).
  2. Cairan yang diberikan adalah 1-2 tetes per detik, tergantung pada laju aliran darah yang diproses.
  3. Ketika darah yang ditampung telah mencukupi untuk dibilas, maka proses pembilasan (pemisahan sel dilakukan).
  4. Sel darah merah yang sudah tersaring siap digunakan dan ditransfusi kembali.

Referensi
Kuppurao, Lakshminarasimhan . Perioperative cell salvage. Contin Educ Anaesth Crit Care Pain 10 (4): 104-108. doi: 10.1093/bjaceaccp/mkq017

Oksigenator

Oksigenator merupakan alat medis yang digunakan perfusionist dalam bedah jantung. Oksigenator memiliki fungsi sebagai pengganti paru-paru baik proses oksigenasi ataupun pelepasan karbondioksida dari darah. Oksigenator digunakan pada bedah pintas jantung paru ataupun juga pada penggunaan ECMO (extracorporeal membrane oxygenation).

Oksigenator memiliki luas area permukaan membran berkisar 1 – 4 m2. Berbentuk serat berongga. Jarak difusi gas antara darah dan gas dalam paru-paru buatan berkisar 10-30 µm, lebih besar dibandingkan paru-paru alami. Saat ini paru-paru buatan dengan kandungan gas oksigen 100%, sedang digunakan atau dikembangkan dengan tujuan untuk mencapai tingkat pertukaran gas sehingga dapat mendukung proses metabolisme pasien saat beristirahat.

Membran oksigenator pertama kali digunakan oleh Kolff tahun 1955. Pada saat itu, material membran yang tersedia relatif impermeabel terhadap gas oksigen dan karbondioksida. Membran oksigenator yang pertama yang dibuat dan digunakan secara klinis telah dilaporkan oleh Clowes dan Hopkins pada tahun 1956. Membran oksigenator tersebut dibuat dari ethylcellulose multilayer flatsheet membranes dan memiliki luas permukaan 25 m2.
Faktor tersebut telah membatasi penggunaan membran oksigenator secara klinis dari tahun 1970an dan awal 1980an, meskipun membran sheet tipis yang pertama kali terbuat dari polyethylene dan polytetraflourethylene telah tersedia. Perkembangan polydimethylsiloxane dengan permeabilitas yang tinggi terhadap oksigen dan karbondioksida, telah membawa kemajuan besar dalam penetapan teknik pengerjaan dari membran oksigenator pada tahun 1960an dan tahun 1970an. Luas permukaan membran yang dibutuhkan dapat dioptimasi hingga kurang dari 6 m2.
Terobosan nyata datang seiring dengan perkembangan hydrophobic microporous hollow fiber membrane dengan ukuran pori < 0,1 um pada tahun 1980an. Pada tahun 1980an, microporous hollow fiber membranes menjadi komersial. Membran oksigenator dengan aliran ekstraluminar membutuhkan luas permukaan membran yang kurang dari 2 m2 untuk merawat pasien dewasa

Referensi :
1. Handayani, Susanto. 2010. Aplikasi Membran untuk Paru-paru Buatan

Trombosis

http://www.brainhq.com/media-gallery/detail/161/96
Trombosis adalah pembentukan masa abnormal dari konstituen darah (thrombus, trombus) di dalam pembuluh darah.
Ketika pembuluh darah terluka, tubuh menggunakan platelet (trombosit) dan fibrin untuk membentuk bekuan darah untuk mencegah kehilangan darah. Bekuan yang istirahat bebas dan mulai melakukan perjalanan ke seluruh tubuh dikenal sebagai embolus.
Ketika ukuran trombus secara signifikan cukup besar akan mengurangi aliran darah ke jaringan, hingga menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen) dan meningkatkan  penumpukan produk metabolik seperti asam laktat. Sebuah trombus yang lebih besar menyebabkan obstruksi jauh lebih besar untuk aliran darah dapat menyebabkan anoksia, perampasan lengkap oksigen dan infark, kematian jaringan.

Mesin Pintas Jantung Paru | Komponen

Beberapa komponen dari mesin pintas jantung paru :
  1. Oxygenator
  2. Pompa
  3. Reservoir  (Penampung)
  4. Venous and arterial cannula (tubes)
  5. Bubble detector
  6. Level sensor
  7. Polyvinyl chloride (PVC) or silicone tubing
  8. Cardiotomy (filtered reservoir)
  9. Flow meter
  10. Inline blood gas and electrolyte analyzer
  11. Pressure-monitoring devices.

Root Aorta | Anatomi

Gambar a. interleaflet triangles, b daunkatup aorta
Root Aorta terdiri dari sinus valsava, katup aorta, commissure, interleaflet triangles.



Underwood et all. The aortic root: structure, function, and surgical reconstruction. Heart2000;83:376–380

Sinus Valsava | Anatomi

Gambar Sinus Valsava/Sinus Aorta
Sinus valsava/sinus aorta merupakan bagian dari root aorta yang terletak tepat di atas katup aorta. Terdapat tiga sinus aorta, yaitu     sinus aorta kiri, sinus aorta kanan dan sinus posterior:
  1. Sinus aorta kiri terdapat arteri koroner kiri.
  2. Sinus aorta kanan terdapat arteri koroner kanan.
  3. Sinus posterior. Sinus ini tidak terdapat pembuluh darah koroner, oleh karena itu dikenal sebagai sinus non-koroner.
Nama lain dari sinus valsava/ sinus aorta yaitu sinus Morgagni, sinus dari Mehta, sinus dari Otto, atau sinus Petit.

Wkipiedia. Aortic Sinus diakses melalui http://en.wikipedia.org/wiki/Aortic_sinus pada tanggal 23 April 2014

www.appliedradiology.com

David Procedure: Pergantian Root Aorta

David Procedure adalah prosedur khusus untuk aneurisma root aorta: segmen pertama dari aorta yang langsung keluar jantung. Root aorta merupakan bagian khusus dimana area ini berisi katup aorta dan muara arteri koroner. Oleh karenanya, ketika terjadi aneurisma pada root aorta, akan dilakukan pula tindakan pembedahan pada arteri koroner dan/atau katup aorta. Katup aorta pasien disimpan (mungkin diperbaiki dan ditanam kembali) dan menghubungkan kembali ke bagian pulmonal dari jaringan aorta. Dengan menjaga katup aorta asli, pasien menghindari kebutuhan untuk terapi antikoagulan seumur hidup.
Valve Sparing Root Replacement Surgery Illustrations
Tahap 1: Proses cooling dimana suhu diturunkan hingga jantung tidak berdenyut, gambaran EKG flat (datar). Kemudian dilakukan cross clamp aorta (klem silang aorta)

Valve Sparing Root Replacement Surgery Illustrations
Tahap 2: Jahitan (jahitan) ditempatkan di bawah katup dan di luar anulus aorta (cincin jaringan sekitarnya katup). Sebuah graft vaskular yang tepat dipilih dan melekat pada jantung dengan 
jahitan yang telah disiapkan.
Valve Sparing Root Replacement Surgery Illustrations
Tahap 3: Katup tersebut kemudian dengan hati-hati diposisikan dalam graft untuk menghilangkan kebocoran. Dua lubang kecil dibuat di graft untuk menempatkan arteri koroner.
Valve Sparing Root Replacement Surgery Illustrations
Tahap 4 Tahapan terakhir adalah dengan menghubungkan the end of the graft is attached to the aortic arch while the brain is carefully protected with a special perfusion technique known as 
antegrade cerebral perfusion (ACP). 

Columbia Surgery. 2014. David Procedure: Valve-Sparing Root Replacement. Diakses melalui http://www.columbiasurgery.org/aortic/david_procedure.html pada tanggal 21 April 2014

Sinus Koronarius : Anatomi


Gambar Sinus Koronarius (Posterior)
Sinus koronarius adalah pembuluh darah besar yang merupakan kumpulan vena yang mengalirkan darah deoksigenasi dari otot jantung (miokardium) ke atrium kanan. Berukuran pendek, ukuran bervariasi dari sekitar 15-65 milimeter, terletak di sepanjang permukaan posterior jantung antara ventrikel kiri dan atrium kiri. Sinus koroner mengumpulkan sebagian besar darah vena jantung.
 
Sinus koronarius terbuka ke atrium kanan, di lubang sinus koronarius, antara vena cava inferior dan lubang atrioventrikular kanan. Ia mengembalikan darah dari substansi jantung, dan dilindungi oleh lipatan setengah lingkaran dari membran auricle, katup dari sinus koroner (atau katup Thebesius).
Gambar Sinus Koronarius (Interior)
Sinus koronarius sering berfungsi sebagai penanda untuk ahli bedah yang melakukan operasi jantung. Kateter balon aman dapat ditempatkan di sini untuk memperkenalkan agen kontras, cardioplegia, dan terapi lainnya. Pada bedah jantung, sinus koronarius adalah tempat yang efektif untuk menempatkan kanula cardioplegia retrograde. 

Miller, S. Coronary Sins Catheter Placement-Second Edition.Edward

Aorta | Anatomi



Anatomi Aorta :
  • Heart (Jantung)
  • Coronary Aorta (Arteri koroner )
  • Ascending Aorta (Aorta Ascending)
  • Arch Aortic (Arkus Aorta)
    • Brachiocephalic Artery
      • Right Subclavian Artery
      • Right Common carotid Artery
    •  Left Common carotid Artery
    • Left Subclavian Artery
  • Descending Aorta
  • Thoracic Aorta
  • Abdominal Aorta

Referensi :
1. Branch of Aortic Arch. Paradoja7.com

Tim ECMO

Tim ECMO terdiri dari neonatologist, dokter perawatan intensif, dokter ahli bedah, Perfusionist ECMO, perawat ICU dan terapis pernafasan .